”Alarm Keras PPDB Jambi 2026: Saat Digitalisasi Justru Menjegal Siswa Berprestasi”
JambiTrending.Com – Sistem digital yang diharapkan mempermudah jalur birokrasi kembali memakan korban. Kali ini, nasib malang menimpa ARN (15), seorang atlet Taekwondo berprestasi tingkat nasional yang harus mengubur mimpinya bersekolah di SMA Negeri 4 Kota Jambi.
Bukan karena kalah saing dalam hal kompetensi atau nilai, melainkan karena terjebak dalam “labirin” sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online 2026 yang membingungkan.
Langkah ARN menuju sekolah impiannya lewat jalur prestasi macet total akibat masalah penginputan data. Selama empat tahun berturut-turut, remaja ini telah mengharumkan nama daerah di arena Taekwondo nasional. Namun di hadapan sistem PPDB, tumpukan sertifikat emasnya mendadak tidak terbaca hanya karena salah meletakkan berkas digital.
Selaku pihak keluarga Fery sekaligus wali ARN, mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam terhadap minimnya panduan dan edukasi dari pihak operator sekolah. Saat proses pendaftaran berlangsung,
ia mengaku kebingungan karena tidak menemukan kolom khusus yang jelas untuk mengunggah berkas Tes Kemampuan Akademik (TKA) maupun bukti piagam prestasinya.
Kejanggalan sistem mulai terungkap saat diketahui bahwa dokumen prestasi nasional milik ARN ternyata harus diunggah ke dalam kolom yang bertuliskan “Keahlian Luar Negeri”. Parahnya lagi, kolom tersebut diberi label sebagai menu “opsional” (pilihan). Karena label opsional itulah, Fery sempat melewatkannya karena mengira kolom tersebut hanya diperuntukkan bagi siswa lulusan luar negeri.
Puncak kepanikan terjadi di hari penutupan pendaftaran. Pihak operator sekolah baru memberikan kejelasan dan memberi tahu lokasi pengunggahan berkas tersebut pada pukul 15.15 WIB. Berkejaran dengan waktu yang kian menipis, Fery mencoba melengkapi data. Namun malang, sistem PPDB online telanjur terkunci otomatis 15 menit kemudian, tepat pukul 15.30 WIB. ARN pun dinyatakan gugur dari seleksi.
”Kami hanya meminta kebijaksanaan dan evaluasi menyeluruh. Jangan sampai sistem online yang harusnya mempermudah, justru menjegal anak-anak yang nyata memiliki prestasi untuk daerah ini,” keluh Fery.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kepala Sekolah SMAN 4 Kota Jambi belum memberikan respons atau konfirmasi resmi terkait polemik sistem yang merugikan sang atlet nasional tersebut.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan di Provinsi Jambi bahwa digitalisasi tanpa edukasi dan sistem yang ramah pengguna hanya akan melahirkan ketidakadilan baru bagi para siswa.



Tinggalkan Balasan